get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

HIKMAH JUMAT : Iman di Era Algoritma

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 05:00 WIB
header img
Kini, tanpa disadari, media sosial menjadi salah satu “guru” terbesar dalam kehidupan manusia. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

KITA HIDUP pada zaman ketika manusia tidak lagi sekadar memilih apa yang ingin dilihat, didengar, dan dibaca. Diam-diam, pilihan itu semakin banyak ditentukan oleh algoritma.

Apa yang muncul di layar ponsel kita, video yang direkomendasikan, berita yang terus berulang, bahkan iklan yang mengikuti aktivitas kita, semuanya bekerja melalui sistem yang mempelajari kebiasaan kita.

Algoritma tidak mengenal iman. Ia tidak peduli apakah sebuah konten mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya. Algoritma hanya mengenali apa yang membuat kita berhenti menggulir layar, menonton lebih lama, mengeklik, berkomentar, dan kembali lagi.

Di sinilah persoalan besar umat Islam hari ini muncul: ketika algoritma semakin pintar menguasai perhatian manusia, apakah iman kita juga cukup kuat untuk menguasai diri sendiri?

Allah SWT telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra [17]: 36)

Ayat ini terasa semakin relevan di era digital. Mata kita setiap hari menyerap ribuan gambar. Telinga mendengar begitu banyak informasi. Pikiran menerima berbagai opini. Hati menjadi tempat bertemunya kebenaran, kebatilan, inspirasi, provokasi, hiburan, dan godaan.

Ketika Algoritma Menjadi “Guru” Baru

Dahulu, seorang anak belajar dari orang tua, guru, buku, dan lingkungan. Kini, tanpa disadari, media sosial menjadi salah satu “guru” terbesar dalam kehidupan manusia.

Seseorang yang berulang kali menonton suatu konten akan semakin disuguhi tontonan konten serupa. Algoritma belajar dari perilaku kita, kemudian memperkuat perilaku tersebut. Di sinilah jebakannya. Apa yang awalnya hanya ditonton untuk hiburan dapat berubah menjadi kebiasaan.

Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu dapat berubah menjadi kecanduan. Apa yang awalnya dianggap dosa kecil dapat perlahan kehilangan rasa bersalah karena terlalu sering disaksikan.

Bukankah Baginda Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa hati manusia dapat dipengaruhi oleh apa yang terus-menerus dilakukan? Dalam sebuah hadits, Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Fitnah-fitnah itu akan ditampakkan kepada hati seperti tikar dianyam sehelai demi sehelai...” (HR. Muslim)

Pesannya sangat dalam. Keburukan yang berulang dapat memengaruhi kondisi hati. Karena itu, persoalan terbesar di era digital bukan sekadar berapa banyak informasi yang kita konsumsi, melainkan apa yang informasi itu lakukan terhadap hati kita.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto: Ist)
 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut