get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

HIKMAH JUMAT : Iman di Era Algoritma

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 05:00 WIB
header img
Kini, tanpa disadari, media sosial menjadi salah satu “guru” terbesar dalam kehidupan manusia. (Foto: Ist)

Kita Memilih Konten, tetapi Konten Juga Membentuk Kita

Sering kali kita merasa bebas karena dapat memilih sendiri apa yang ingin ditonton. Padahal, pilihan kita hari ini akan memengaruhi rekomendasi kita esok hari. Kita menonton satu video. Muncul sepuluh video serupa. Kita berhenti pada sebuah unggahan selama beberapa detik. Algoritma mencatatnya.

Akhirnya terbentuk sebuah ruang digital yang seolah-olah menggambarkan dunia sesuai dengan selera kita. Kita bisa terjebak dalam ruang gema (echo chamber), hanya mendengar pendapat yang sesuai dengan keyakinan kita.

Akibatnya, kita mudah membenci orang yang berbeda, mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar, dan mudah menganggap kelompok sendiri selalu benar. Padahal, Islam justru mengajarkan sikap kritis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat ini seharusnya menjadi pedoman literasi digital umat Islam. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang banyak dibagikan itu layak dipercaya. Tidak semua yang disampaikan dengan mengatasnamakan agama otomatis merupakan kebenaran.

Jempol Bisa Menjadi Saksi

Ada satu hal yang sering dilupakan manusia modern: aktivitas digital bukan berarti bebas dari pertanggungjawaban. Kita mungkin merasa komentar hanya sebuah kalimat. Sebuah unggahan hanya beberapa detik. Sebuah share hanya satu klik.

Tetapi di hadapan Allah, semuanya memiliki konsekuensi. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini, “berkata” tidak hanya menggunakan mulut. Kita berkata melalui komentar, status, unggahan, caption, video, dan pesan yang kita sebarkan. Jempol kita juga bisa menjadi sumber pahala. Tetapi jempol yang sama dapat menjadi sumber dosa.

Karena itu, sebelum menekan tombol share, seorang Muslim seharusnya bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah Allah ridha jika saya menyebarkannya?

Jangan Biarkan Algoritma Mengatur Hati

Kita tidak harus memusuhi teknologi. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk anti terhadap kemajuan. Teknologi adalah alat. Persoalannya terletak pada bagaimana manusia menggunakannya.

Media sosial bisa menjadi ladang dakwah. Internet dapat menjadi perpustakaan ilmu. Teknologi dapat memperluas silaturahmi, pendidikan, bisnis, dan kemanusiaan. Tetapi, teknologi juga dapat menjadi pintu maksiat jika manusia kehilangan kendali.

Karena itu, umat Islam membutuhkan “puasa digital”: kemampuan untuk berhenti, membatasi, dan memilih. Tidak semua notifikasi harus dibuka. Tidak semua perdebatan harus diikuti. Tidak semua tren harus diketahui. Tidak semua konten layak dikonsumsi.

Algoritma mungkin mampu mengetahui apa yang kita sukai. Tetapi hanya Allah yang mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan hati kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)


Media sosial bisa menjadi ladang dakwah. Internet dapat menjadi perpustakaan ilmu. (Foto: Ist)
 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut