HIKMAH JUMAT : Ketika Musibah Datang: Dimanakah Hati Kita Berlabuh?

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Bagi seorang mukmin, musibah bukan sekadar peristiwa yang menyakitkan. Ia adalah ujian keimanan, sarana penghapus dosa, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Foto: Ist)

Musibah Menghapus Dosa

Salah satu kabar gembira terbesar disampaikan oleh Baginda Rasulullah SAW: "Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, maupun kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa luas kasih sayang Allah. Tangisan seorang mukmin tidak hanya didengar. Ia juga menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Rasa sakit yang membuat kita sulit tidur, kesedihan yang membebani dada, bahkan luka kecil sekalipun, semuanya bernilai ibadah apabila dihadapi dengan sabar dan penuh harap kepada Allah.

Ketahuilah bahwa Allah lebih mengetahui kemampuan hamba-Nya dibandingkan dirinya sendiri. Allah berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Artinya, jika ujian itu sampai kepada kita, berarti Allah mengetahui bahwa kita mampu melewatinya. Boleh jadi kita belum melihat kekuatan itu hari ini. Tetapi Allah telah menyiapkannya di dalam diri kita.

Baginda Rasulullah Pun Tidak Lepas dari Musibah

Jangan pernah mengira bahwa menjadi orang saleh berarti hidup tanpa ujian. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling mulia, tetapi beliau juga manusia yang paling banyak diuji.

Beliau menjadi yatim sebelum lahir. Ibunya wafat ketika beliau masih kecil. Kakek dan pamannya meninggal. Diusir dari kampung halaman. Dilempari batu hingga berdarah. Difitnah. Diboikot. Anak-anak beliau wafat satu demi satu. Istri tercinta, Khadijah R.A., meninggal dunia.

Namun tidak pernah sekali pun beliau menyalahkan Allah. Beliau justru berdoa dengan penuh ketundukan. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka." (HR. at-Tirmidzi)

Musibah seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan. Karena hanya Allah yang mampu mengubah kesedihan menjadi ketenangan. Hanya Allah yang mampu mengganti kehilangan dengan keberkahan. Dan hanya Allah yang mampu menyembuhkan luka yang tidak terlihat oleh manusia.

Allah berfirman: "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Sering kali hikmah baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Ada musibah yang ternyata menyelamatkan seseorang dari dosa. Ada kegagalan yang mengantarkan kepada kesuksesan yang lebih besar. Ada kehilangan yang membuat seseorang menemukan Allah.


Ketika musibah datang, sering kali manusia bertanya mengapa Allah membiarkan semua itu terjadi. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network