Musibah memang menyakitkan. Islam tidak pernah melarang kita menangis. Bahkan Baginda Rasulullah SAW pun menangis ketika kehilangan putranya, Ibrahim. Namun beliau bersabda:
"Sesungguhnya mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kami." (HR. Bukhari)
Inilah keseimbangan dalam Islam. Bersedih adalah fitrah, tetapi berputus asa bukanlah ajaran seorang mukmin.
Ketika musibah datang, jangan biarkan hati hanyut dalam keluh kesah. Jadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin mengenal Allah, memperbanyak doa, memperkuat sabar, dan memperteguh tawakal. Sebab Allah telah memberikan janji yang menenangkan hati setiap orang beriman:
"Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6)
Perhatikan, Allah mengulang janji ini dua kali. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya. Di balik setiap air mata, ada rahmat yang sedang disiapkan. Di balik setiap kehilangan, ada pelajaran yang sedang membentuk jiwa.
Dan di balik setiap musibah yang diterima dengan sabar, insya Allah tersimpan pahala yang kelak akan membuat seorang mukmin berkata pada hari kiamat, "Andai dulu ujianku di dunia lebih berat lagi."
Semoga setiap musibah yang menimpa kita menjadi jalan penghapus dosa, pengangkat derajat, dan penguat iman, hingga akhirnya mengantarkan kita kepada perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan hati yang tenang dan diridhai-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin. (*)
Musibah seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan. Karena hanya Allah yang mampu mengubah kesedihan menjadi ketenangan. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
