Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
TIDAK ADA seorang pun yang mengundang musibah datang ke dalam hidupnya. Semua orang mendambakan kesehatan, ketenangan, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang baik, dan kehidupan yang bahagia.
Namun, kenyataan hidup sering kali berjalan di luar harapan. Dalam hitungan detik, kabar duka bisa datang. Seseorang yang kita cintai berpulang. Usaha yang dibangun bertahun-tahun runtuh. Bencana alam meluluhlantakkan rumah. Penyakit menggerogoti tubuh yang selama ini tampak sehat.
Bagi seorang mukmin, musibah bukan sekadar peristiwa yang menyakitkan. Ia adalah ujian keimanan, sarana penghapus dosa, sekaligus jalan menuju kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Musibah Adalah Kepastian Hidup
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang dipenuhi dengan ujian. Tidak ada seorang pun yang akan lolos darinya. Allah berfirman:
"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa ujian bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Perbedaannya hanya terletak pada bentuknya. Ada yang diuji dengan kehilangan. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan penyakit. Ada pula yang diuji justru dengan kelimpahan harta, jabatan, dan popularitas. Semuanya adalah ujian.
Tidak Ada Musibah yang Terjadi Tanpa Izin Allah
Ketika musibah datang, sering kali manusia bertanya mengapa Allah membiarkan semua itu terjadi. Padahal Allah telah menegaskan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid [57]: 22)
Ayat ini bukan untuk membuat manusia pasrah tanpa ikhtiar, tetapi agar hati tidak hancur oleh penyesalan yang berkepanjangan. Apa yang sudah Allah tetapkan tidak akan pernah meleset. Dan apa yang luput dari kita memang tidak pernah ditakdirkan menjadi milik kita.
Ketika musibah datang, Islam mengajarkan satu kalimat yang sangat agung, yakni: "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali." (QS. Al-Baqarah [2]: 156)
Kalimat istirja' ini bukan sekadar ucapan belasungkawa. Ia adalah deklarasi keimanan. Bahwa hidup ini bukan milik kita. Anak bukan milik kita. Harta bukan milik kita. Jabatan bukan milik kita. Bahkan tubuh yang kita gunakan setiap hari pun hanyalah titipan Allah. Maka ketika Sang Pemilik mengambil kembali titipan-Nya, seorang mukmin belajar untuk menerima dengan hati yang ridha.
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
