HIKMAH JUMAT : Ketika Jabatan Menjadi Jalan Menuju Neraka

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Emas batangan yang ditemukan di rumah pejabat Kejaksaan Agung. Pelaku korupsi adalah orang-orang yang telah memiliki jabatan tinggi, penghasilan besar, rumah mewah, dan berbagai fasilitas yang diimpikan banyak orang. (Foto: Ist)

Fenomena ini menunjukkan bahwa ritual keagamaan belum tentu melahirkan integritas apabila tidak disertai ketakwaan yang sesungguhnya. Baginda Rasulullah SAW bersabda:

"Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Banyak pejabat meraih jabatan melalui janji-janji pengabdian kepada rakyat. Namun setelah memperoleh kekuasaan, sebagian justru mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu melakukan introspeksi. Korupsi besar sering kali berawal dari pembiaran terhadap korupsi kecil. Budaya "uang terima kasih", pemberian yang mengharapkan balasan, penggunaan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, hingga praktik mencari jalan pintas dalam urusan administrasi merupakan bibit-bibit yang dapat berkembang menjadi korupsi yang lebih besar.

Islam mengajarkan bahwa segala bentuk pengambilan harta yang bukan haknya adalah perbuatan yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil..." (QS. Al-Baqarah [2]: 188)

Ayat ini menjadi landasan bahwa korupsi, suap, gratifikasi haram, penggelapan, mark-up anggaran, maupun penyalahgunaan jabatan termasuk dalam kategori memakan harta secara batil.

Dalam banyak kasus, korupsi terjadi bukan karena kebutuhan, melainkan karena ketamakan. Ketika seseorang sudah memiliki satu rumah, ia ingin dua rumah. Ketika memiliki dua rumah, ia ingin sepuluh rumah. Ketika memiliki miliaran rupiah, ia masih merasa kurang.

Hawa nafsu yang tidak dikendalikan membuat seseorang rela mempertaruhkan kehormatan, keluarga, dan akhiratnya demi kekayaan yang sebenarnya tidak akan dibawa mati.

Padahal Baginda Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa jabatan bukanlah kemuliaan yang harus diperebutkan. Beliau bersabda: "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya." (HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa beratnya tanggung jawab seorang pejabat. Jabatan yang hari ini disambut dengan tepuk tangan dan karangan bunga bisa berubah menjadi penyesalan yang tidak berujung apabila digunakan untuk menzalimi rakyat.


Pejabat tak amanah dalam jumpa pers KPK. Jabatan yang semestinya menjadi sarana pengabdian kepada rakyat justru sering berubah menjadi alat untuk mengumpulkan kekayaan. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network