Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
SETIAP KALI seorang pejabat ditangkap karena korupsi, publik marah. Media ramai memberitakan, dan media sosial dipenuhi kecaman. Namun, beberapa hari kemudian, kasus baru muncul kembali.
Di negeri kita ini, seolah-olah korupsi telah menjadi rutinitas yang tidak lagi mengejutkan. Yang berganti hanya nama pelakunya, sementara modus dan kerakusannya tetap sama.
Ironisnya, banyak pelaku korupsi bukanlah orang yang hidup dalam kemiskinan. Mereka bergaji tinggi, memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, bahkan dihormati masyarakat.
Namun, semua itu belum cukup memuaskan nafsu mereka. Jabatan yang semestinya menjadi amanah justru berubah menjadi ladang untuk mengumpulkan kekayaan. Kekuasaan yang seharusnya digunakan melayani rakyat malah dipakai melampiaskan hawa nafsunya.
Inilah yang disebut krisis moral dan krisis spiritual. Islam memandang jabatan bukan sebagai hak istimewa, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa [4]: 58)
Ayat ini seharusnya menjadi panduan bagi setiap pemegang kekuasaan. Sayangnya, sebagian orang justru memandang jabatan sebagai investasi. Biaya politik yang mahal dianggap harus "kembali modal". Dari sinilah korupsi menemukan pintu masuknya.
Korupsi Berawal dari Hati yang Kehilangan Rasa Takut kepada Allah
Korupsi terjadi bukan karena pelakunya kekurangan harta, melainkan karena telah hilangnya rasa takut kepada Allah. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS. Ghafir [40]: 19)
Koruptor mungkin mampu menghapus jejak transaksi, merekayasa laporan keuangan, atau menyembunyikan aset melalui berbagai cara. Mereka mungkin dapat mengelabui auditor, penyidik, bahkan masyarakat. Namun, tidak ada satu pun yang dapat disembunyikan dari Allah.
Inilah yang membedakan sistem pengawasan manusia dengan pengawasan Allah. Kamera pengawas hanya bekerja ketika listrik menyala. Aparat hanya dapat bertindak ketika bukti ditemukan. Tetapi pengawasan Allah tidak pernah berhenti sedetik pun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 27)
Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
