HIKMAH JUMAT -- Korupsi Tak Akan Pernah Mati Jika Hati Masih Bisa Dibeli

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Kejaksaan Agung serahkan uang hasil korupsi sebesar Rp 13T kepada Kemenkeu. Korupsi di negeri ini telah menjadi rutinitas yang tidak lagi mengejutkan. Yang berganti hanya nama pelakunya, sementara modus dan kerakusannya tetap sama. (Foto: Ist)

Setiap rupiah yang dikorupsi sesungguhnya bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di balik uang itu ada hak masyarakat yang dirampas. Ada sekolah yang gagal dibangun. Ada jalan yang cepat rusak. Ada rumah sakit yang kekurangan fasilitas. Ada anak-anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.

Korupsi bukanlah kejahatan tanpa korban. Korbannya adalah seluruh rakyat, terutama mereka yang paling lemah. Karena itu, korupsi tidak boleh dipandang sebagai sekadar tindak pidana ekonomi. Ia adalah bentuk kezaliman yang dampaknya meluas dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Islam Tidak Hanya Menghukum, Tetapi Membentuk Karakter

Selama ini, pemberantasan korupsi lebih banyak berfokus pada hukuman. Hukuman memang penting, tetapi hukuman hanya bekerja setelah kejahatan terjadi. Islam bergerak lebih jauh. Islam membangun benteng sebelum kejahatan dilakukan.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.... Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kejujuran bukan hanya nilai pribadi, tetapi fondasi sebuah negara. Tidak ada bangsa yang benar-benar maju apabila kejujuran mati. Sebaliknya, banyak negara runtuh bukan karena kekurangan sumber daya alam, tetapi karena korupsi yang terus menggerogoti.

Karakter berikutnya adalah qanaah yang merupakan lawan dari serakah alias tamak atau miskin hati. Pelaku korupsi sebagian besar adalah mereka yang sudah memiliki banyak harta, namun tidak memiliki rasa qanaah.

Padahal Islam telah lama mengingatkan bahwa masalahnya bukan pada sedikit atau banyaknya harta, melainkan penyakit tamak. Ketika hati miskin, berapa pun gaji akan terasa kurang. Ketika hati dipenuhi qana'ah, rezeki yang halal, walaupun sedikit, akan terasa cukup.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu, pendidikan antikorupsi yang sesungguhnya bukan hanya mengajarkan aturan, tetapi juga membentuk karakter yang sederhana, amanah, dan takut kepada Allah.

Korupsi akan semakin sulit diberantas ketika hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Ketika masyarakat melihat adanya perlakuan berbeda terhadap pelaku kejahatan, kepercayaan terhadap hukum ikut terkikis.

Islam memberikan teladan yang sangat tegas. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Pelaku korupsi lupa bahwa jabatan yang semestinya menjadi amanah justru dijadikan ladang untuk mengumpulkan kekayaan. (Foto: Ist)
 


Editor : Syahrir Rasyid

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network