HIKMAH JUMAT : Allah Tidak Pernah Salah

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si.
Keliru besar, kekayaan dianggap lebih mulia daripada kesederhanaan. Popularitas dipandang lebih bernilai daripada ketakwaan. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

DI ERA MEDIA SOSIAL seperti saat ini, manusia semakin mudah merasa tidak puas. Dalam hitungan detik, kita bisa melihat orang lain lebih kaya, lebih cantik, lebih cerdas, lebih sukses, atau lebih terkenal.

Tanpa sadar, lahirlah pertanyaan yang berbahaya: "Mengapa Allah tidak menciptakan aku seperti dia?"

Pertanyaan itu mungkin tidak terucap, tetapi sering hadir dalam bentuk keluhan, iri hati, bahkan protes kepada takdir. Kita membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain, lalu menyimpulkan bahwa Allah tidak adil.

Padahal, persoalannya bukan pada takdir Allah, melainkan pada cara pandang manusia. Islam mengajarkan satu prinsip yang sangat mendasar: Allah tidak pernah salah.

Tidak pernah salah ketika menciptakan manusia. Tidak pernah salah ketika membagi rezeki. Tidak pernah salah ketika menentukan rupa, kecerdasan, keluarga, kesehatan, maupun jalan hidup setiap hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar [54]: 49).

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah berada dalam ukuran, ketentuan, dan hikmah yang sempurna. Tidak ada yang kebetulan. Tidak ada yang keliru. Semua berada dalam ilmu dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Mengetahui.

Perbedaan adalah Sunnatullah

Mengapa ada orang yang hidup kaya sementara yang lain miskin? Mengapa ada yang sehat dan ada yang diuji dengan penyakit? Mengapa ada yang mudah meraih prestasi, sedangkan yang lain harus berjuang berkali-kali lipat?

Al-Qur'an telah menjawabnya: "Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain." (QS. Az-Zukhruf [43]: 32).

Perbedaan bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan mekanisme kehidupan yang Allah tetapkan agar manusia saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling menolong.

Bayangkan jika semua orang menjadi pemimpin, siapa yang akan dipimpin? Jika semua menjadi dokter, siapa yang akan menjadi petani, guru, atau nelayan?


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Masalah muncul ketika manusia menganggap perbedaan sebagai ukuran kemuliaan. Kekayaan dianggap lebih mulia daripada kesederhanaan. Jabatan dianggap lebih tinggi daripada kejujuran. Popularitas dipandang lebih bernilai daripada ketakwaan.

Padahal, standar Allah sama sekali berbeda. Allah menilai takwa, bukan status. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat ini meruntuhkan seluruh kesombongan manusia. Perbedaan suku, warna kulit, profesi, kekayaan, bahkan kedudukan bukanlah alasan untuk merasa lebih mulia. Semua hanyalah identitas dunia. Yang menjadi ukuran di sisi Allah hanyalah ketakwaan.

Baginda Rasulullah SAW juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

Betapa sering manusia sibuk mempercantik penampilan, menumpuk kekayaan, dan mengejar pengakuan, tetapi lupa memperbaiki hati. Padahal, yang dilihat Allah bukanlah apa yang dipamerkan di hadapan manusia, melainkan keikhlasan yang tersembunyi.

Bahaya Membandingkan Takdir

Budaya membandingkan diri menjadi penyakit di zaman ini. Media sosial sering membuat orang merasa hidupnya paling berat, rumahnya paling sederhana, pekerjaannya paling biasa, dan rezekinya paling sedikit.

Padahal, setiap orang sedang memikul ujian yang berbeda. Yang tampak bahagia belum tentu tenang. Yang terlihat kaya belum tentu bersyukur. Yang populer belum tentu dicintai Allah.

Karena itu Baginda Rasulullah SAW mengingatkan: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan mengajarkan kita berhenti berusaha menjadi lebih baik, melainkan menjaga hati agar tidak terperangkap dalam iri dan keluh kesah. Ambisi boleh tinggi, tetapi syukur tidak boleh hilang.


Jangan menyangka bahwa setiap keberhasilan adalah tanda kemuliaan, atau setiap kesulitan adalah tanda kebencian Allah. (Foto: Ist)
 

Menerima bahwa Allah tidak pernah salah bukan berarti menyerah pada keadaan. Islam justru memerintahkan ikhtiar terbaik. Seorang miskin tetap bekerja keras. Seorang pelajar tetap belajar. Seorang pemimpin tetap memperjuangkan keadilan.

Yang dilarang adalah menggugat ketentuan Allah setelah semua usaha dilakukan.

Seorang mukmin percaya bahwa hasil terbaik belum tentu yang paling ia inginkan, tetapi pasti yang paling Allah ketahui manfaatnya. Di sinilah letak keindahan iman: kita berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu ridha terhadap keputusan Allah.

Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Saatnya Berdamai dengan Takdir

Mungkin kita tidak dilahirkan dalam keluarga kaya. Mungkin wajah kita biasa saja. Mungkin karier kita tidak secepat orang lain. Mungkin rezeki datang lebih lambat daripada harapan.

Namun, semua itu bukan bukti bahwa Allah melupakan kita. Boleh jadi justru itulah jalan yang Allah pilih agar kita lebih dekat kepada-Nya, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih layak menerima kemuliaan di akhirat.

Sebab kehidupan dunia hanyalah persinggahan, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya ada di sisi Allah. Maka berhentilah mengukur kasih sayang Allah dengan ukuran dunia.

Jangan menyangka bahwa setiap keberhasilan adalah tanda kemuliaan, atau setiap kesulitan adalah tanda kebencian Allah. Yang menentukan nilai seorang manusia bukan apa yang dimilikinya, melainkan bagaimana ia menjalani amanah yang diberikan kepadanya.

Pada akhirnya, persoalannya bukan mengapa hidup kita berbeda dari orang lain. Persoalan yang sesungguhnya adalah apakah kita mampu mensyukuri takdir yang Allah pilihkan.

Karena satu hal yang pasti: Allah tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara manusia memahami rencana-Nya. Bersyukur dan bersabar, adalah menjadi sikap terbaik yang harus kita lakukan. (*)


Budaya membandingkan diri menjadi penyakit di zaman ini. Media sosial sering membuat orang merasa hidupnya paling berat. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network