Tetapi ketika seseorang sedang berjuang memperbaiki dirinya, berapa banyak yang datang untuk menguatkan?
Padahal Bagida Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bangunan yang kokoh bukan karena setiap batunya berdiri sendiri. Ia kokoh karena setiap bagian saling menopang. Kita membutuhkan budaya saling menguatkan dalam kebenaran, bukan budaya saling membenarkan dalam kesalahan.
Bukan Tidak Tahu yang Benar, Tetapi Tidak Teguh Menjalankannya
Perintah ketiga dalam ayat tersebut adalah “wa rabithu”, (tetaplah teguh, bersiaplah, jangan lengah). Inilah yang sangat relevan dengan zaman sekarang.
Kita sebenarnya sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita tahu korupsi itu haram. Kita tahu suap itu dosa. Kita tahu dusta itu tercela. Kita tahu menzalimi orang lain adalah kejahatan. Kita tahu amanah harus dijaga.
Tetapi mengetahui kebenaran ternyata tidak otomatis membuat seseorang setia kepada kebenaran. Di sinilah persoalannya. Karena itu Al-Qur’an tidak berhenti pada sabar. Kita diperintahkan tetap teguh. Sebab godaan terbesar manusia bukan selalu ketidaktahuan. Sering kali kita tahu yang benar, tetapi tidak sanggup mempertahankannya ketika kepentingan datang menggoda.
Dan Ujungnya: Takwa
Setelah sabar, saling menguatkan, dan tetap teguh, Allah memberikan kunci terakhir: “Wattaqullah” (bertakwalah kepada Allah). Mengapa takwa ditempatkan di ujung? Karena semua keteguhan pada akhirnya harus memiliki fondasi: kesadaran bahwa hidup ini diawasi Allah.
Ketika tidak ada kamera, apakah kita tetap jujur? Ketika tidak ada atasan, apakah kita tetap bekerja dengan benar? Ketika memiliki kesempatan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apakah kita tetap mampu berkata tidak?
Ketika memiliki kekuasaan untuk memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi, apakah kita masih ingat bahwa jabatan adalah amanah? Di situlah takwa diuji.
Takwa bukan sekadar banyaknya simbol keagamaan yang melekat pada diri seseorang. Takwa terlihat ketika iman bertemu dengan godaan. (Foto: Ist)
Editor : Syahrir Rasyid
Artikel Terkait
