HIKMAH JUMAT : Fitnah Digital -- Dosa Baru di Dunia Maya
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
KITA HIDUP di zaman di mana satu jari bisa lebih berbahaya daripada sebilah pedang. Bukan karena kekuatan fisiknya, tetapi karena dampaknya yang tak terlihat namun menghancurkan.
Dunia digital yang seharusnya menjadi ruang berbagi ilmu dan kebaikan, justru berubah menjadi ladang subur bagi fitnah. Ironisnya, banyak pelakunya bukan orang jahat, melainkan orang biasa yang merasa sedang melakukan hal “biasa saja”: membagikan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah fitnah itu berbahaya? Karena Islam sudah menegaskan sejak 14 abad lalu: “Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Namun, yang perlu kita renungkan hari ini adalah: mengapa kita begitu ringan melakukannya di dunia maya?
Di media sosial, fitnah tidak lagi terasa seperti dosa besar. Ia telah dinormalisasi. Dibungkus dengan istilah “forward dari grup sebelah”, “cuma share”, atau “biar jadi pembelajaran”.
Padahal, di balik satu tombol “bagikan”, bisa ada kehancuran nama baik, keluarga, bahkan masa depan seseorang.
Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak yang merasa tidak bersalah karena tidak membuat konten tersebut, hanya menyebarkan. Padahal dalam Islam, menyebarkan keburukan sama berbahayanya dengan menciptakannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan peringatan yang sangat jelas: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan keji itu tersebar di kalangan orang-orang beriman, mereka akan mendapat azab yang pedih…” (QS. An-Nur [24]: 19)
Ayat ini tidak hanya menyasar pembuat fitnah, tetapi juga mereka yang senang melihat dan ikut menyebarkannya. Ini adalah tamparan keras bagi budaya viral yang kita banggakan hari ini.
Masalah utama umat hari ini bukan kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi tanpa verifikasi. Semua ingin cepat, semua ingin pertama. Akibatnya, tabayyun sebagai nilai dasar dalam Islam, kini menjadi korban.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah…” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Ayat ini seharusnya menjadi “rem” dalam setiap aktivitas digital. Namun kenyataannya, kita lebih sering menekan tombol “share” daripada tombol “cek fakta”. Kita lebih percaya pada sensasi daripada kebenaran.
Di sinilah letak krisisnya: akal dikalahkan oleh emosi, iman dikalahkan oleh impuls.

Editor : Syahrir Rasyid