HIKMAH JUMAT : Fitnah Digital -- Dosa Baru di Dunia Maya
Dosa di dunia nyata seringkali terbatas, didengar oleh sedikit orang, berdampak pada lingkaran kecil. Namun di dunia digital, dosa berubah menjadi konsumsi publik. Ia disaksikan, disukai, dikomentari, dan disebarkan ulang.
Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Media sosial telah mengubah banyak orang menjadi pelaku dosa terang-terangan. Bahkan, ada yang merasa bangga ketika unggahannya viral, meskipun isinya merendahkan orang lain.
Lebih parah lagi, dosa itu tidak berhenti. Ia terus hidup dalam bentuk jejak digital. Perhatikan sabda Baginda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya…” (HR. Muslim)
Satu unggahan bisa menjadi sumber dosa yang terus mengalir. Bukan hanya sehari, tetapi bertahun-tahun. Ini bukan lagi sekadar kesalahan, tetapi investasi keburukan jangka panjang.
Penyebabnya adalah banyak orang berani memfitnah di dunia maya karena merasa aman di balik akun anonim. Mereka lupa bahwa meskipun manusia tidak mengenalinya, Allah tetap mengetahui.
Allah Subhanahu wa Ta’ala padahal telah berfirman yang artinya: “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir [40]: 19)
Anonimitas digital telah melahirkan keberanian palsu yakni berani memfitnah, berani mencaci, berani menuduh, berani merusak tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ini bukanlah keberanian sejati, melainkan tanda rapuhnya kesadaran akan adanya pengawasan Allah (muraqabah).

Editor : Syahrir Rasyid