get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Fitnah Digital -- Dosa Baru di Dunia Maya

Jum'at, 24 April 2026 | 05:01 WIB
header img
Dunia digital yang seharusnya menjadi ruang berbagi ilmu dan kebaikan, justru berubah menjadi ladang subur bagi fitnah. (Foto: Ist)

Lisan Baru: Lebih Tajam dari Kata-kata

Jika dahulu luka karena lisan bisa sembuh dengan waktu, luka karena tulisan digital bisa bertahan selamanya. Screenshot tidak bisa dilupakan. Arsip tidak bisa dihapus sepenuhnya.

Baginda Rasulullah SAW telah memberi prinsip sederhana namun tegas: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini, prinsip itu harus diperluas: “Jika tidak bisa menulis yang baik, maka jangan mengetik sama sekali.” Dulu, menjadi penyebar informasi butuh media besar. Hari ini, setiap orang adalah media. Namun sayangnya, tidak semua orang siap dengan tanggung jawab itu.

Setiap klik adalah pilihan moral. Setiap share adalah keputusan etis. Setiap komentar adalah cerminan iman. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas…” (QS. Qaf [50]: 18)

Jika semua yang kita tulis akan dicatat, lalu mengapa kita menulis seolah-olah tidak akan pernah dihisab?

Fitnah digital bukan sekadar masalah teknologi. Ia adalah cermin kondisi iman. Ketika hati lemah, jari menjadi liar. Ketika iman menurun, etika pun runtuh. Masalahnya bukan pada medianya, tetapi pada manusianya.

Maka solusi sejatinya bukan hanya literasi digital, tetapi revolusi spiritual yang meliputi menghidupkan kembali rasa takut kepada Allah, membiasakan tabayyun sebelum berbagi, menahan diri dari ikut arus kebencian, dan menjadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan dosa.

Ingatlah bahwa pada akhirnya, yang akan ditanya bukan seberapa cepat kita membagikan berita, tetapi seberapa benar dan seberapa bertanggung jawab kita melakukannya.

Sebelum menekan tombol “kirim”, tanyakan pada diri: Apakah ini akan menyelamatkan saya di akhirat, atau justru memberatkan?

Jika ragu, tinggalkan. Karena tidak semua yang viral itu bernilai, dan tidak semua yang dibagikan itu layak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)


Media sosial telah mengubah banyak orang menjadi pelaku dosa terang-terangan. (Foto: Ist)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut