get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Mengakui Kesalahan - Luka yang Disembuhkan oleh Kejujuran

Jum'at, 22 Mei 2026 | 05:49 WIB
header img
Dalam pandangan Allah, kemuliaan bukan milik orang yang selalu benar, tetapi milik orang yang mau kembali ke jalan benar ketika salah. (Foto: Ist)

Tangisan Nabi Adam dan Kesombongan Iblis

Ada pelajaran besar dari kisah Nabi Adam AS dan Iblis. Keduanya sama-sama pernah melakukan kesalahan. Namun akhir keduanya berbeda.

Iblis menolak mengakui kesalahannya. Ia merasa dirinya lebih baik. Kesombongan membuatnya terusir dari rahmat Allah. Sedangkan Nabi Adam AS menangis dan memohon ampun.

Allah mengabadikan doa beliau: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23)

Perhatikan kalimatnya: kami telah menzalimi diri kami sendiri.

Tidak ada pembelaan. Tidak menyalahkan keadaan. Tidak menyalahkan pihak lain. Inilah kejujuran seorang hamba. Dan justru karena pengakuan itulah Allah menerima taubat Nabi Adam.

Kisah Inspiratif: Anak Muda dan Ibunya

Dikisahkan ada seorang pemuda yang hidup jauh dari orang tuanya. Ia sukses dalam pekerjaan, memiliki banyak teman, dan terlihat bahagia. Namun ada satu hal yang terus menghantuinya: ia pernah membentak ibunya dengan sangat kasar sebelum merantau.

Saat itu ia merasa benar. Ia merasa ibunya terlalu banyak mengatur hidupnya. Maka dengan emosi ia pergi meninggalkan rumah tanpa meminta maaf.

Bertahun-tahun berlalu.

Suatu malam, ia mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras. Dengan tergesa ia pulang. Ketika memasuki kamar, ia melihat ibunya terbaring lemah.

Tangannya gemetar.

Hatinya sesak.

Semua kesombongan yang selama ini dipertahankan runtuh dalam sekejap.

Ia menggenggam tangan ibunya sambil menangis:

“Bu… maafkan saya…”

Ibunya tersenyum lemah sambil berkata:

“Ibu sudah memaafkan sejak dulu…”

Pemuda itu menangis sejadi-jadinya. Bukan karena dimarahi, tetapi karena menyadari bahwa selama ini egonya telah mencuri begitu banyak waktu untuk meminta maaf.

Betapa banyak manusia hari ini yang terlambat menyadari bahwa mengakui kesalahan jauh lebih indah daripada mempertahankan gengsi.

Sebab tidak semua orang tua masih hidup ketika kita ingin meminta maaf.
Tidak semua sahabat masih ada ketika kita ingin memperbaiki hubungan.
Tidak semua kesempatan akan kembali.


Tidak semua orang tua masih hidup ketika kita ingin meminta maaf. Tidak semua sahabat masih ada ketika kita ingin memperbaiki hubungan. (Foto: Ist)
 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut