get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Mungkin Ini Tahun Hijriyah Terakhir Kita

Jum'at, 12 Juni 2026 | 05:02 WIB
header img
Islam mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar hidup menjadi lebih bermakna. (Foto: Ist)

Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang

HARI INI adalah Jum’at terakhir di tahun 1447 H. Banyak catatan yang sudah kita torehkan di tahun ini, mungkin amal saleh atau mungkin amal salah. Kini, tahun 1447 H akan segera berganti, namun tidak ada seorang pun yang tahu berapa sisa umurnya.

Kita merencanakan banyak hal untuk tahun depan, bulan depan, bahkan esok hari. Namun, tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita masih diberi kesempatan untuk menyaksikan datangnya tahun baru 1448 H.

Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting untuk direnungkan: Bagaimana jika ini adalah tahun Hijriyah terakhir kita?

Pertanyaan itu memang terasa menyesakkan. Tetapi justru di sanalah letak hikmahnya. Islam mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar hidup menjadi lebih bermakna.

Allah Ta’ala berfirman: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)

Waktu yang Tidak Pernah Kembali

Salah satu nikmat terbesar yang sering diabaikan manusia adalah waktu. Kita begitu mudah menghabiskan berjam-jam untuk hal-hal yang tidak penting, tetapi merasa berat untuk meluangkan beberapa menit membaca Al-Qur'an, berdzikir, atau bermuhasabah.

Padahal Allah bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur'an: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr [103]: 1-3)

Setiap detik yang berlalu sesungguhnya adalah bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali. Ketika tahun Hijriyah berganti, sejatinya bukan hanya angka yang berubah. Umur kita pun berkurang satu tahun.


Dr. Abidin, S.T., M.Si. (Foto : iNewsSerpong)
 

Catatan Amal yang Terus Ditulis

Mungkin selama setahun terakhir kita telah melakukan banyak hal. Ada kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ada sedekah yang tidak diketahui orang lain. Ada air mata yang jatuh saat berdo’a di tengah malam.

Namun mungkin pula ada dosa yang kita anggap kecil. Ghibah yang dianggap biasa. Pandangan yang tidak dijaga. Janji yang diingkari. Hak orang lain yang belum ditunaikan.

Semua itu tidak hilang begitu saja. Allah Ta’ala berfirman: "Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata, 'Betapa celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya.'" (QS. Al-Kahfi [18]: 49)

Tidak ada satu pun amal yang luput dari pencatatan. Bahkan bisikan hati, niat, dan kata-kata yang terlontar begitu saja akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Maka di penghujung tahun Hijriyah ini, sudahkah kita membuka kembali "rapor kehidupan" kita?

Mungkin Tahun Ini Menjadi Kesempatan Terakhir

Beberapa bulan terakhir, kita mendengar kabar duka datang silih berganti. Ada yang wafat dalam usia muda. Ada yang baru saja membuat rencana besar. Ada yang pagi hari masih bercengkerama dengan keluarga, tetapi sore harinya telah dipanggil menghadap Allah Ta’ala.

Kematian tidak mengenal usia, jabatan, ataupun status sosial. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yaitu kematian)." (HR. At-Tirmidzi)

Mengapa Nabi memerintahkan kita mengingat kematian?

Karena orang yang mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam hidupnya. Ia akan berpikir dua kali sebelum berbuat maksiat. Ia akan lebih mudah memaafkan. Ia tidak terlalu terobsesi dengan dunia yang sementara.

Bayangkan jika malam ini adalah malam terakhir kita. Masihkah kita menunda taubat? Masihkah kita menyimpan dendam? Masihkah kita lalai dalam shalat?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati yang mungkin sudah terlalu lama tertidur.


Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah merasa masih memiliki banyak waktu. (Foto: Ist)
 

Taubat Tidak Boleh Ditunda

Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan tentang hari esok. Allah berfirman: "Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur [24]: 31)

Taubat bukanlah tanda bahwa seseorang banyak dosa. Taubat adalah tanda bahwa seseorang sadar dirinya adalah manusia. Baginda Rasulullah SAW yang maksum saja beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.

Dalam hadits lain disebutkan: "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari." (HR. Muslim)

Jika Nabi yang dijamin surga saja demikian, bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan? Akhir tahun Hijriyah adalah saat yang tepat untuk kembali mengetuk pintu ampunan Allah sebelum pintu itu tertutup oleh datangnya kematian.

Menutup Tahun dengan Harapan

Meski artikel ini berbicara tentang kematian dan muhasabah, Islam bukan agama yang mengajarkan keputusasaan. Sebesar apa pun dosa kita, rahmat Allah jauh lebih besar. Allah Ta’ala berfirman:

"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Karena itu, jika selama setahun ini kita merasa banyak kekurangan, jangan tenggelam dalam penyesalan. Jadikan penyesalan itu sebagai bahan bakar untuk berubah. Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi kita masih bisa memperbaiki hari ini.

Mungkin kita tidak bisa menghapus semua kesalahan yang telah terjadi. Tetapi kita masih bisa memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun. Dan mungkin, benar-benar mungkin, ini adalah tahun Hijriyah terakhir kita.

Jika demikian, semoga saat lembaran tahun ini ditutup, Allah menemukan lebih banyak taubat daripada dosa, lebih banyak syukur daripada keluhan, lebih banyak amal daripada kelalaian.

Semoga ketika ajal benar-benar datang, kita termasuk hamba yang dipanggil dengan penuh kemuliaan: "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)


Mungkin kita tidak bisa menghapus semua kesalahan yang telah terjadi. Tetapi kita masih bisa memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun. (Foto: Ist)

Aamiin yaa Rabbal 'alamin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut