get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Cerdas Tapi Masuk Neraka?

Jum'at, 31 Juli 2026 | 05:01 WIB
header img
Semakin tinggi pendidikan seseorang, tidak selalu memiliki integritas yang tinggi. Semakin canggih teknologi, tidak otomatis membuat manusia semakin dekat kepada Tuhan. (Foto: Ist)

Karena itu, kecerdasan sejati adalah kemampuan mengatakan "tidak" ketika ada kesempatan berbuat dosa. Lebih dari itu, orang yang cerdas selalu mengingat bahwa hidup memiliki batas waktu.

Ironisnya, manusia sering bertingkah seolah-olah akan hidup selamanya. Menunda taubat, menunda sedekah, menunda memperbaiki diri, seakan kematian masih sangat jauh. Padahal Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa'i)

Mengingat kematian bukan membuat seseorang pesimis, tetapi menjadikannya lebih bijaksana. Orang yang sadar bahwa hidup ini singkat tidak akan menghabiskan waktunya untuk permusuhan yang sia-sia, kesombongan yang tidak berguna, atau mengejar dunia dengan mengorbankan akhirat.

Hari ini Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kampus-kampus terus melahirkan lulusan terbaik. Teknologi berkembang pesat. Informasi tersedia tanpa batas.

Namun, bangsa ini masih merindukan lahirnya lebih banyak orang-orang cerdas menurut Islam, yaitu mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan, jabatan sebagai amanah, kekayaan sebagai sarana berbagi, dan kekuasaan sebagai ladang pengabdian.

Sebab, kecerdasan tanpa akhlak hanya akan melahirkan penjahat berpendidikan. Kecerdasan tanpa iman hanya akan menghasilkan koruptor yang lihai, pembohong yang cakap berbicara, dan pemimpin yang pandai berjanji tetapi miskin integritas.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap makna sukses dan cerdas. Anak-anak kita tidak cukup hanya dididik agar menjadi juara kelas, tetapi juga harus dibimbing menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan takut kepada Allah.

Sebab, pada akhirnya, yang akan menyelamatkan manusia bukanlah nilai rapor, gelar akademik, atau tepuk tangan dunia, melainkan iman, amal saleh, dan ketakwaannya.

Ketika dunia sibuk mengejar gelar "orang paling pintar", marilah kita mengejar predikat yang diajarkan Baginda Rasulullah SAW: menjadi orang yang benar-benar cerdas, yaitu mereka yang mampu mengalahkan hawa nafsunya dan menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Karena pada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah, yang ditanya bukanlah seberapa tinggi IQ kita, melainkan seberapa besar ketakwaan dan amal yang kita persembahkan selama hidup di dunia. (*)


Banyak orang berlomba-lomba terlihat sukses. Mobil mewah dipamerkan, rumah megah dipertontonkan, liburan mahal dijadikan konten. (Foto: Ist)
 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut