HIKMAH JUMAT : Cerdas Tapi Masuk Neraka?
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang.
KITA HIDUP di zaman yang gemar mengagungkan kecerdasan. Gelar akademik dipuja, prestasi intelektual dirayakan, dan kemampuan menghasilkan uang dijadikan tolok ukur keberhasilan.
Seseorang yang mampu membangun perusahaan bernilai triliunan rupiah, menguasai berbagai bahasa, atau menduduki jabatan strategis segera disebut sebagai "orang cerdas".
Namun, di tengah semua pujian itu, muncul sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan: benarkah mereka cerdas menurut ukuran Allah?
Faktanya, tidak sedikit orang yang memiliki kecerdasan luar biasa justru menggunakan kepintarannya untuk menipu, memanipulasi, menyalahgunakan jabatan, bahkan menguras uang rakyat melalui korupsi.
Mereka berhasil mengakali sistem, menghilangkan jejak kejahatan, dan menyembunyikan kekayaan hasil haram. Di mata manusia mereka mungkin tampak sebagai sosok yang hebat, tetapi di hadapan Allah, kecerdasan semacam itu tidak memiliki nilai sedikit pun.
Inilah ironi zaman. Semakin tinggi pendidikan seseorang, tidak selalu semakin tinggi pula integritasnya. Semakin canggih teknologi, tidak otomatis membuat manusia semakin dekat kepada Tuhannya.
Bahkan, kecerdasan intelektual yang tidak dibimbing oleh iman justru dapat berubah menjadi senjata paling berbahaya untuk menghancurkan moral, keadilan, dan kemanusiaan.
Islam memiliki definisi yang sangat berbeda tentang kecerdasan. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadits ini menghancurkan paradigma dunia yang selama ini mengukur kecerdasan hanya dengan IQ. Dalam Islam, ukuran kecerdasan bukanlah seberapa cepat seseorang berpikir, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan hawa nafsunya dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Karena itu, seseorang yang memiliki jabatan akademik guru besar (profesor) tetapi menyalahgunakan ilmu untuk kepentingan pribadi belum tentu cerdas menurut Islam. Seorang pejabat yang mampu menyusun kebijakan hebat, tetapi mengkhianati amanah rakyat, juga bukan orang cerdas di sisi Allah.

Editor : Syahrir Rasyid