HIKMAH JUMAT : Krisis Akhlak, Cikal Bakal Kehancuran Bangsa
Kekuasaan sesungguhnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kekuasaan berada di tangan manusia yang kehilangan akhlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58)
Ayat ini berbicara langsung tentang dua fondasi kepemimpinan: amanah dan keadilan. Jabatan bukan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, bukan pula tiket untuk diperlakukan istimewa. Jabatan juga bukan alat untuk membangun dinasti kepentingan.
Jabatan adalah amanah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Persoalan terbesar kita mungkin bukan kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak orang cerdas. Kita memiliki ahli ekonomi, ahli hukum, ilmuwan, akademisi, birokrat, profesional, pengusaha, dan pemimpin dengan kemampuan luar biasa.
Tetapi bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Kita membutuhkan manusia yang berakhlak. Sebab kecerdasan tanpa akhlak dapat digunakan untuk menipu. Kekuasaan tanpa akhlak dapat digunakan untuk menindas.
Ilmu tanpa akhlak dapat digunakan untuk membenarkan kesalahan. Teknologi tanpa akhlak dapat digunakan untuk menyebarkan fitnah. Kekayaan tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan. Bahkan agama tanpa akhlak dapat berubah menjadi sekadar simbol dan ritual.
Itulah sebabnya Baginda Rasulullah SAW menempatkan akhlak pada posisi yang sangat penting. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Rabiul Awwal adalah bulan akhlak. Bulan dimana Baginda Rasulullah SAW dilahirkan dengan membawa dengan misi utama menyempurnakan akhlak. Jadi, jika kita ingin mencari solusi atas krisis akhlak, maka Islam tidak membiarkan kita kehilangan arah.
Allah telah menghadirkan Baginda Rasulullah SAW sebagai teladan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Baginda Rasulullah bukan hanya seorang nabi yang mengajarkan ibadah. Beliau adalah model manusia berakhlak yang membangun masyarakat dan peradaban. Beliau jujur ketika berdagang, amanah ketika dipercaya, adil ketika memimpin, rendah hati ketika memiliki kekuasaan.

Editor : Syahrir Rasyid