HIKMAH JUMAT : Krisis Akhlak, Cikal Bakal Kehancuran Bangsa
Beliau memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk membalas. Beliau menyayangi orang miskin dan lemah, menghormati manusia tanpa melihat status sosial, dan yang paling penting, apa yang beliau katakan selaras dengan apa yang beliau lakukan.
Inilah keteladanan yang hari ini semakin mahal. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang kejujuran, tetapi jujur ketika tidak ada yang mengawasi.
Kita membutuhkan akademisi yang tidak hanya mengajarkan integritas, tetapi menjaganya ketika berhadapan dengan kepentingan. Kita membutuhkan pengusaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memikirkan keberkahan. Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya menuntut hak, tetapi juga menjalankan kewajiban.
Karena itu, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pejabat atau perubahan kebijakan. Kita membutuhkan perbaikan akhlak secara serius dan sistematis. Pemimpin harus menjadi teladan. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Masyarakat harus berhenti memberikan penghormatan kepada orang hanya karena jabatan dan kekayaannya.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak akan diselamatkan hanya oleh orang-orang pintar. Tidak pula hanya oleh teknologi canggih, pertumbuhan ekonomi, gedung-gedung megah, atau banyaknya gelar akademik.
Bangsa ini membutuhkan manusia yang jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong, amanah ketika memiliki kesempatan untuk mengkhianati, adil ketika memiliki kesempatan untuk menzalimi, dan rendah hati ketika memiliki kesempatan untuk menyombongkan diri.
Itulah akhlak, dan itulah yang telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Karena itu, jangan anggap krisis akhlak sebagai persoalan kecil. Ia bisa menjadi cikal bakal kehancuran bangsa.
Sebab ketika kejujuran mati, kepercayaan ikut mati. Ketika keadilan mati, hukum kehilangan wibawa. Ketika amanah mati, jabatan berubah menjadi alat kepentingan. Ketika rasa malu mati, dosa menjadi kebiasaan.
Dan ketika akhlak mati, sebuah bangsa mungkin masih tampak berdiri, tetapi sesungguhnya fondasinya sedang runtuh. Maka barangkali inilah saatnya kita tidak hanya bertanya, “Apa yang salah dengan bangsa ini?”
Tetapi bertanya lebih dalam: “Akhlak apa yang telah hilang dari diri kita?”
Sebab jika bangsa ini ingin sembuh dari penyakitnya, obat pertama yang harus diberikan bukan hanya kepada sistem, tetapi kepada manusia yang menjalankan sistem itu. Jika manusia ingin diperbaiki, akhlak harus kembali menjadi jantungnya, karena kebangkitan akhlak bisa menjadi awal kebangkitan bangsa. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid