HIKMAH JUMAT : Ketika Bencana Tak Kunjung Usai
Karhutla menjadi salah satu wajah paling nyata dari persoalan lingkungan Indonesia pada 2026. Pada awal September, BNPB menyebut karhutla masih mendominasi penanganan bencana di sejumlah wilayah. Bahkan pemerintah memperkuat penanganan di enam provinsi prioritas.
Ini bukan sekadar persoalan api. Karhutla membawa persoalan yang jauh lebih luas: kualitas udara, kesehatan masyarakat, kerusakan ekosistem, gangguan aktivitas ekonomi, serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
Yang lebih menyedihkan, sebagian kebakaran lahan berkaitan dengan aktivitas manusia. BNPB, misalnya, melaporkan kebakaran lahan di Klaten pada akhir Agustus yang dipicu oleh pembakaran lahan dan sampah oleh warga.
Di sinilah pesan Al-Qur'an terasa begitu keras. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.” (QS. Al-A'raf [7]: 56)
Beberapa hari lalu, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya. Erupsi menerus disertai dentuman dan lava fountain. Berdasarkan pantauan BNPB, abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 14,6 kilometer. Dampaknya terasa sampai sektor transportasi udara; empat bandara sempat ditutup sementara.
Di sinilah kita belajar tentang pentingnya kesiapsiagaan. Allah menciptakan alam dengan hukum-hukumnya. Manusia tidak mungkin menghentikan gunung api. Tidak mungkin memerintah gempa agar tidak terjadi. Tidak mungkin melarang hujan turun.
Tetapi manusia dapat membangun sistem peringatan dini, menyiapkan jalur evakuasi, membangun infrastruktur yang lebih aman, meningkatkan literasi kebencanaan, dan tidak tinggal sembarangan di kawasan berisiko tinggi. Karena tawakal bukan berarti pasrah tanpa persiapan. Tawakal harus berjalan bersama ikhtiar.

Editor: Syahrir Rasyid