HIKMAH JUMAT : Rajin Ibadah Tetapi Lalai Menjadi Hamba Allah
Jika salat belum membuat kita lebih jujur, lebih sabar, dan lebih mampu menahan diri, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam cara kita menghayati salat. Jangan hanya bertanya berapa kali kita telah bersujud. Bertanyalah juga, sudah sejauh mana sujud itu meruntuhkan kesombongan kita?
Salah satu persoalan besar dalam kehidupan beragama adalah ketika kesalehan berubah menjadi penampilan, bukan karakter. Kita ingin dikenal sebagai orang saleh. Kita ingin dipandang religius.
Kita senang ketika orang lain memuji kedermawanan, kesantunan, dan ketaatan kita. Namun, apakah kita tetap melakukan kebaikan ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Apakah kita tetap jujur ketika kebohongan bisa mendatangkan keuntungan? Apakah kita tetap amanah ketika pengkhianatan sulit diketahui? Apakah kita tetap membantu orang lain ketika tidak ada kamera yang merekam dan tidak ada pujian yang menanti?
Di sinilah keikhlasan dan integritas diuji. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma'un [107]: 4–6)
Ayat ini merupakan peringatan keras bahwa aktivitas salat saja tidak otomatis membuktikan kesempurnaan kesalehan seseorang. Salat yang disertai kelalaian dan riya menjadi persoalan serius di hadapan Allah.
Riya muncul ketika ibadah dilakukan demi mendapatkan pengakuan manusia. Akibatnya, seseorang bisa tampak saleh di hadapan publik, tetapi kehilangan kesungguhan ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.
Fenomena ini relevan dengan kehidupan digital saat ini. Kebaikan mudah dipublikasikan, kutipan agama mudah dibagikan, dan aktivitas ibadah dapat menjadi konten yang menarik perhatian. Semua itu tidak otomatis salah. Menyebarkan kebaikan melalui media sosial bahkan bisa menjadi sarana dakwah.
Namun, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah media sosial membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat kita lebih sibuk membangun citra sebagai orang yang dekat kepada-Nya?
Jangan sampai kita rajin mengunggah nasihat tentang kejujuran, tetapi masih berdusta dalam pekerjaan. Jangan sampai kita membagikan ayat tentang sedekah, tetapi menutup mata terhadap tetangga yang kelaparan. Jangan sampai kita lantang mengecam kemungkaran orang lain, tetapi selalu memiliki alasan untuk membenarkan kesalahan sendiri.
Agama tidak membutuhkan kita sekadar terlihat saleh. Kehidupan membutuhkan manusia yang benar-benar berusaha hidup sesuai dengan nilai-nilai kesalehan.

Editor: Syahrir Rasyid