HIKMAH JUMAT : Rajin Ibadah Tetapi Lalai Menjadi Hamba Allah
Baginda Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat menggugah tentang hubungan antara ibadah dan perilaku terhadap sesama. Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut.
Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki uang dan harta. Namun, Baginda Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang bangkrut dari umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi juga membawa dosa karena mencaci orang lain, menuduh tanpa hak, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.
Pahala kebaikannya kemudian diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum semua tanggungannya selesai, dosa orang-orang yang dizaliminya dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.
Bayangkan seseorang yang bertahun-tahun menjaga salat, berpuasa, dan bersedekah. Ia merasa telah mengumpulkan banyak bekal akhirat. Namun, ternyata lisannya menyakiti orang lain, tangannya merampas hak sesama, dan kekuasaannya digunakan untuk menindas mereka yang lemah.
Tentu, hadis tersebut bukan alasan untuk meremehkan ibadah atau berputus asa dari rahmat Allah. Justru sebaliknya, hadis itu mengingatkan kita agar menjaga dua hubungan sekaligus: hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.
Kita tidak boleh merasa cukup dengan kesalehan pribadi jika masih mengabaikan keadilan sosial. Kita tidak boleh bangga dengan banyaknya amal apabila masih enggan meminta maaf atas kesalahan. Kita tidak boleh merasa dekat dengan Allah jika kedekatan itu tidak membuat kita semakin berhati-hati dalam memperlakukan manusia.
Akhlak bukan pelengkap agama yang boleh diletakkan di urutan terakhir. Akhlak merupakan bagian penting dari pengamalan agama itu sendiri. Karena itu, ukuran perubahan setelah beribadah semestinya bukan hanya perasaan tenteram saat berdoa, melainkan juga kemampuan menahan amarah, menepati janji, menjaga amanah, menghormati orang lain, dan mengakui kesalahan.
Oleh karenanya, sebelum kita bertanya apakah ibadah kita telah cukup untuk mengantarkan ke surga, ada pertanyaan yang lebih mendesak untuk kita jawab hari ini: sudahkah ibadah itu membuat kita semakin layak disebut sebagai hamba Allah? (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Syahrir Rasyid