HIKMAH JUMAT : Menitipkan Masa Tua Kepada Pemuda
Penulis : Dr. Abidin, S.T., M.Si. -- Dosen Universitas Buddhi Dharma; Ketua Umum Yayasan Bina Insan Madinah Catalina; Ketua PCM Pagedangan, Tangerang
PERNAHKAH KITA membayangkan masa tua sendiri? Ketika rambut memutih, tenaga melemah, dan langkah tak lagi sekuat hari ini, dunia akan terus berjalan. Anak-anak yang dahulu kita gendong akan mengambil alih berbagai tanggung jawab.
Mereka akan menjadi pemimpin, pengambil keputusan, dan penentu wajah masyarakat. Merekalah generasi yang kepadanya kita menitipkan masa tua, masa depan bangsa, bahkan keberlanjutan nilai-nilai kehidupan.
Menitipkan masa tua bukan sekadar berharap anak merawat kita ketika tubuh tak lagi kuat. Maknanya jauh lebih luas: kita mempercayakan masa depan kehidupan kepada generasi yang hari ini sedang kita besarkan.
Ketika kita menua, merekalah yang akan melanjutkan perjuangan, menjaga nilai-nilai kebaikan, dan menentukan seperti apa masyarakat yang kita tinggalkan. Namun, di sinilah konflik batin itu muncul.
Kita begitu takut anak gagal meraih gelar, kehilangan pekerjaan, atau kalah bersaing. Kita rela bekerja sampai larut malam demi masa depan mereka. Namun, apakah kita sama gelisahnya ketika mereka mulai meninggalkan salat, kehilangan rasa malu untuk berbuat curang, atau tidak lagi peduli terhadap halal dan haram?
Jangan-jangan, kita terlalu sibuk menyiapkan anak agar sukses ketika kita masih hidup, tetapi lupa membekali mereka dengan iman dan akhlak ketika kita sudah tiada.
Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober seharusnya menggugah kesadaran ini. Para pemuda pada 1928 berani mengikrarkan persatuan demi masa depan Indonesia. Kini, pertanyaannya bukan hanya apakah pemuda siap meneruskan bangsa, melainkan juga apakah kita, sebagai orang tua, sudah sungguh-sungguh menyiapkan mereka?
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan tidak lahir dari slogan, tetapi dari keberanian, persatuan, dan tanggung jawab. Namun, cita-cita besar bangsa tidak akan bertahan jika generasi penerus kehilangan integritas.
Kita membutuhkan pemuda yang cerdas, tetapi kecerdasan tanpa kejujuran dapat melahirkan kecurangan. Kita membutuhkan pemimpin muda yang berani, tetapi keberanian tanpa amanah dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Kita membutuhkan generasi yang menguasai teknologi, tetapi bukan generasi yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Kita mudah menyalahkan zaman, media sosial, dan pergaulan. Namun, pernahkah kita memeriksa diri sendiri? Berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk mendengarkan anak? Seberapa sering kita berbicara tentang iman dan akhlak, bukan sekadar nilai rapor dan masa depan pekerjaan?

Editor: Syahrir Rasyid