HIKMAH JUMAT : Menitipkan Masa Tua Kepada Pemuda
Mencari nafkah adalah tanggung jawab mulia. Namun, persoalan muncul ketika kesibukan bekerja menjadi alasan untuk menyerahkan hampir seluruh pendidikan karakter kepada sekolah, guru, atau lembaga pendidikan.
Anak membutuhkan biaya sekolah, tetapi juga perhatian. Mereka memerlukan fasilitas, tetapi juga keteladanan. Mereka membutuhkan nasihat, tetapi lebih membutuhkan contoh nyata tentang kejujuran, tanggung jawab, dan ibadah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada keberhasilan material anak. Ada amanah untuk membimbing keluarga agar mengenal Allah dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Baginda Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Anak bukan sekadar kebanggaan yang dipamerkan ketika berprestasi. Mereka adalah amanah. Karena itu, keberhasilan orang tua tidak cukup diukur dari gelar, jabatan, atau penghasilan anak.
Inilah kritik yang mungkin tidak nyaman didengar: sebagian orang tua menuntut anak menjadi baik, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Anak diminta disiplin, sementara orang tua menormalisasi keterlambatan.
Anak dilarang bermain ponsel terlalu lama, sementara orang tua sibuk dengan layar ketika keluarga berkumpul. Anak diminta santun, tetapi orang tua mudah mencaci orang lain. Kita ingin anak berubah, tetapi apakah kita bersedia berubah bersama mereka?
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff [61]: 2–3).
Ayat ini memperingatkan kita tentang ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan. Dalam pendidikan keluarga, keteladanan bukan pelengkap nasihat, melainkan fondasi yang membuat nasihat memiliki kekuatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman [31]: 17).
Pendidikan dalam ayat ini mencakup ibadah, kepedulian sosial, keberanian membela kebaikan, dan kesabaran. Anak tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik. Mereka perlu memiliki kompas moral agar mampu membedakan yang benar dari yang salah.

Editor: Syahrir Rasyid