HIKMAH JUMAT : Seni Melepaskan: Transformasi Spiritual dan Sosial di Balik Syiar Qurban
Secara psikologis, manusia yang tidak mampu melepaskan akan selalu dibayangi oleh kecemasan. Ketakutan akan kehilangan harta atau jabatan seringkali membuat hidup tidak tenang. Ibadah qurban adalah terapi psikologis untuk melatih otot-otot keikhlasan kita.
Ikhlas bukan berarti kita tidak merasa kehilangan. Nabi Ibrahim AS pasti merasa sedih, namun ia memiliki keyakinan yang lebih besar bahwa perintah Allah adalah yang terbaik.
Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad memberikan janji yang sangat menenangkan: “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ’Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik bagimu.”
Pelepasan yang didasari lillah (karena Allah) tidak akan pernah menyisakan kekosongan. Sebaliknya, ia akan mengisi ruang hati kita dengan ketenangan (sakinah) dan kepuasan batin (qana’ah). Orang yang berqurban dengan benar akan merasakan "ringan", karena ia telah menitipkan hartanya pada "tabungan" yang tidak mungkin hilang apalagi bangkrut.
Pada akhirnya, qurban adalah tentang transformasi. Kita mulai dengan menyembelih hewan, namun tujuannya adalah "menyembelih" keakuan kita. Seni melepaskan mengajarkan kita bahwa hidup ini adalah tentang memberi dan mengabdi.
Mari kita jadikan momentum Idul Adha tahun ini sebagai ajang audit diri. Mari kita identifikasi "Ismail-Ismail" dalam diri kita, apakah itu harta yang membuat kita kikir, jabatan yang membuat kita sombong, atau opini yang membuat kita keras kepala.
Melepaskan memang tidak mudah, namun di balik setiap pelepasan demi ketaatan, selalu ada kemuliaan yang menanti. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang namanya tetap harum dan diberkati dalam setiap shalawat kita hingga hari ini.
Mari berqurban dan berbagi sebagai bentuk melepaskan keakuan yang ada pada diri kita. Semoga kita pun mendapatkan bagian dari keberkahan itu dengan berani melepaskan apa yang paling kita cintai demi Dia yang Maha Mencintai. (*)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid