get app
inews
Aa Text
Read Next : HIKMAH JUMAT : Menghentikan Kelalaian

HIKMAH JUMAT : Mungkin Ini Tahun Hijriyah Terakhir Kita

Jum'at, 12 Juni 2026 | 05:02 WIB
header img
Islam mengajarkan bahwa kesadaran akan kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar hidup menjadi lebih bermakna. (Foto: Ist)

Catatan Amal yang Terus Ditulis

Mungkin selama setahun terakhir kita telah melakukan banyak hal. Ada kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ada sedekah yang tidak diketahui orang lain. Ada air mata yang jatuh saat berdo’a di tengah malam.

Namun mungkin pula ada dosa yang kita anggap kecil. Ghibah yang dianggap biasa. Pandangan yang tidak dijaga. Janji yang diingkari. Hak orang lain yang belum ditunaikan.

Semua itu tidak hilang begitu saja. Allah Ta’ala berfirman: "Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata, 'Betapa celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya.'" (QS. Al-Kahfi [18]: 49)

Tidak ada satu pun amal yang luput dari pencatatan. Bahkan bisikan hati, niat, dan kata-kata yang terlontar begitu saja akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Maka di penghujung tahun Hijriyah ini, sudahkah kita membuka kembali "rapor kehidupan" kita?

Mungkin Tahun Ini Menjadi Kesempatan Terakhir

Beberapa bulan terakhir, kita mendengar kabar duka datang silih berganti. Ada yang wafat dalam usia muda. Ada yang baru saja membuat rencana besar. Ada yang pagi hari masih bercengkerama dengan keluarga, tetapi sore harinya telah dipanggil menghadap Allah Ta’ala.

Kematian tidak mengenal usia, jabatan, ataupun status sosial. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yaitu kematian)." (HR. At-Tirmidzi)

Mengapa Nabi memerintahkan kita mengingat kematian?

Karena orang yang mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam hidupnya. Ia akan berpikir dua kali sebelum berbuat maksiat. Ia akan lebih mudah memaafkan. Ia tidak terlalu terobsesi dengan dunia yang sementara.

Bayangkan jika malam ini adalah malam terakhir kita. Masihkah kita menunda taubat? Masihkah kita menyimpan dendam? Masihkah kita lalai dalam shalat?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati yang mungkin sudah terlalu lama tertidur.


Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah merasa masih memiliki banyak waktu. (Foto: Ist)
 

Editor : Syahrir Rasyid

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut