HIKMAH JUMAT : Mungkin Ini Tahun Hijriyah Terakhir Kita
Mungkin selama setahun terakhir kita telah melakukan banyak hal. Ada kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ada sedekah yang tidak diketahui orang lain. Ada air mata yang jatuh saat berdo’a di tengah malam.
Namun mungkin pula ada dosa yang kita anggap kecil. Ghibah yang dianggap biasa. Pandangan yang tidak dijaga. Janji yang diingkari. Hak orang lain yang belum ditunaikan.
Semua itu tidak hilang begitu saja. Allah Ta’ala berfirman: "Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata, 'Betapa celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya.'" (QS. Al-Kahfi [18]: 49)
Tidak ada satu pun amal yang luput dari pencatatan. Bahkan bisikan hati, niat, dan kata-kata yang terlontar begitu saja akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Maka di penghujung tahun Hijriyah ini, sudahkah kita membuka kembali "rapor kehidupan" kita?
Beberapa bulan terakhir, kita mendengar kabar duka datang silih berganti. Ada yang wafat dalam usia muda. Ada yang baru saja membuat rencana besar. Ada yang pagi hari masih bercengkerama dengan keluarga, tetapi sore harinya telah dipanggil menghadap Allah Ta’ala.
Kematian tidak mengenal usia, jabatan, ataupun status sosial. Baginda Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yaitu kematian)." (HR. At-Tirmidzi)
Mengapa Nabi memerintahkan kita mengingat kematian?
Karena orang yang mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam hidupnya. Ia akan berpikir dua kali sebelum berbuat maksiat. Ia akan lebih mudah memaafkan. Ia tidak terlalu terobsesi dengan dunia yang sementara.
Bayangkan jika malam ini adalah malam terakhir kita. Masihkah kita menunda taubat? Masihkah kita menyimpan dendam? Masihkah kita lalai dalam shalat?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati yang mungkin sudah terlalu lama tertidur.

Editor : Syahrir Rasyid