HIKMAH JUMAT : Mungkin Ini Tahun Hijriyah Terakhir Kita
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan tentang hari esok. Allah berfirman: "Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur [24]: 31)
Taubat bukanlah tanda bahwa seseorang banyak dosa. Taubat adalah tanda bahwa seseorang sadar dirinya adalah manusia. Baginda Rasulullah SAW yang maksum saja beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.
Dalam hadits lain disebutkan: "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari." (HR. Muslim)
Jika Nabi yang dijamin surga saja demikian, bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan? Akhir tahun Hijriyah adalah saat yang tepat untuk kembali mengetuk pintu ampunan Allah sebelum pintu itu tertutup oleh datangnya kematian.
Meski artikel ini berbicara tentang kematian dan muhasabah, Islam bukan agama yang mengajarkan keputusasaan. Sebesar apa pun dosa kita, rahmat Allah jauh lebih besar. Allah Ta’ala berfirman:
"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Karena itu, jika selama setahun ini kita merasa banyak kekurangan, jangan tenggelam dalam penyesalan. Jadikan penyesalan itu sebagai bahan bakar untuk berubah. Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi kita masih bisa memperbaiki hari ini.
Mungkin kita tidak bisa menghapus semua kesalahan yang telah terjadi. Tetapi kita masih bisa memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun. Dan mungkin, benar-benar mungkin, ini adalah tahun Hijriyah terakhir kita.
Jika demikian, semoga saat lembaran tahun ini ditutup, Allah menemukan lebih banyak taubat daripada dosa, lebih banyak syukur daripada keluhan, lebih banyak amal daripada kelalaian.
Semoga ketika ajal benar-benar datang, kita termasuk hamba yang dipanggil dengan penuh kemuliaan: "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

Aamiin yaa Rabbal 'alamin. Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor : Syahrir Rasyid